Ngojek Politik



(Cerita Fiktif Hari Ini)

"Pilkada sebentar lagi" kata seorang warga Torjun yang berprofesi sebagai tukang ojek. Umar namanya, dikerumunan rekan kerjanya dia menceritakan tentang Pilkada secara panjang lebar, mulai dari berubahnya peta kekuatan Parpol yang sebab musababnya karena adanya peta kekuatan uang.

"Sudahlah sekarang ini uang yang berbicara" tegasnya. "bayangkan saja banyak parpol yang berubah dalam memberikan rekom untuk calon, itu jelas efek jumlah uang yang masuk, kalo bahasa di TV itu katanya mahar politik. Ya memang sih, Partai kan seperti ojek, kalo gak bayar pasti gak mungkin dimuat hahahahahaha
" ceritanya sambil dibarengi dengan tertawa terbahak-bahak.

Hasib tim yang seprofesi menertawakan sambil lalu membenarkan statemen Umar itu, "betul mar, membela yang benar katanya tapi membela uang beneran, hahahahahahaha".
“Kita ini selalu diberi barang rongsokan sama partai-partai besar itu, naas kita mar" lanjutnya.

"Ojek Cong .. !" Perbincangan hangat itu kemudian berhenti seketika karena ada teriakan Klien alias penumpang.

Beberapa tukang ojek yang nongkrong itu kemudian berdiri secara bersamaan, Kuseiri yang sebelumnya hanya menjadi pendengar yang baik, membentak semua rekannya "Duduk !!! , semua harus antri sesuai dengan urutan tadi, yang adil dong.."
Semua terdiam sambil tersenyum lalu mereka duduk secara senyap.

Kuseiri pun mengantarkan penumpang itu ke salah satu Desa disisi utara Torjun, sekitar 5 KM dari pusat ojek tadi, dengan melewati jalan hotmik keriput muda, lalu melewati ratusan meter batu kerikil yang diludahi aspal bakar, dan pada akhirnya sampai lah dengan jalan berkarakter lokal yang dipenuhi lumpur.

Sesampainya di rumah penumpang itu, dia dipersilahkan untuk mampir dirumahnya yang kebetulan ada acara maulid nabi. Hidangan buah-buahan dan opor ayam sudah siap disantap. Namun Kuseiri lebih memilih air karena kehausan efek perjalanan yang sangat makan tenaga dan menghauskan otak.

Sebelum acara dimulai perbincangan jemaah yang didominasi petani itu juga memperbincangkan Pilkada Sampang.
Pemuda yang dari tampangnya sangat berpendidikan memimpin forum informal itu, "saya prediksi dia lulusan SMA Negeri" kata hati kecil kuseiri.

Karena di Desa seperti ini sangat susah menemukan Pemuda yang berijazah SMA apalagi mayoritas pemuda nya merantau.

"asal sampeyan tau, Gus Dur saja dikhianati apalagi orang Sampang" bisik pemuda itu kepada jemaah Maulud. Orang setengah tua yang penampilannya seperti petani menjawab pemuda itu dalam bentuk tanya"Cong.... terus bener ta kalo kita dipaksa untuk memilih orang yang belum kami kenal selama ini".

Pemuda itupun menjawab "ya benar Teh, karena Partai-partai besar hanya melihat berapa uang yang mereka terima, tapi kita hanya bisa berdoa teh semoga kedepannya masih ada calon yang potensial yang jelas asal-usul dan visi misinya".

Tiba-tiba pembicaraan berhenti karena Kiai datang, dengan peci hitam baju koko putih dengan sarung cokelat tua agak kusut berjalan menghampiri jemaah dengan penuh akhlak. Para jemaah pun salam sungkem pada beliau. Sholawat pun berkumandang.

Setelah acara selesai para jemaah pulang dengan membawa bingkisan, begitupun dengan Kuseiri.

Selama perjalanan dia bingung apa yang dibicarakan orang-orang itu, "semua membicarakan politik, apa mungkin karena minimnya lapangan pekerjaan, sehingga warga tidak memiliki kesibukan dan hanya disibukkan dengan politik saja. Sudahlah dari pada pusing mending ngojek lagi". Pikirnya.

Tapi Kuseiri selalu mendidik anaknya dengan baik, memberikan pendidikan agama dan umum yang seimbang, mendoakan anak-anaknya semoga menjadi orang bermanfaat bukan menjadi tukang ojek politik dan mendoakan semoga Sampang dipimpin orang-orang baik pula yang bermafaat bagi anak-anaknya kelak.

30 November 2017

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama