Mafia Pertanian Hama Mematikan

Indonesia merupakan Negara agraris yang kaya akan alamnya. Begitu subur tanah dan sumber alamnya telah menggoda warga asing untuk berdatangan. Mashurnya bumi Indonesia yang tersiar sampai keujung dunia telah mengundang etnis China dan arab untuk berdagang pada masa keemasan kerajaan, kemudian penjajah bangsa eropa dan jepang menyusul silih berganti merampas kekayaan alam yang tiada duanya.

Hasil bumi seperti rempah-rempah telah mengundang bangsa arab untuk datang dan sekaligus menyebarkan agama Islam, sedangkan China membawa kapal-kapal besar untuk membarter benda-benda mewah dengan hasil bumi pada masa Majapahit. Bahkan bangsa eropa dengan peralatan tempur yang super canggih pada saat itu memaksa bangsa ini untuk menyetorkan hasil buminya secara Cuma-cuma.

Penjajahan alam dan politik pun telah dimulai hanya demi mengenyangkan perut Kapitalis Belanda yang buas dan tidak pernah puas. Setiap hasil panen harus disetorkan sebagian kepada pemerintahan hindia belanda yang dikenal dengan kerja paksa. Hasil panen pangan yang merupakan sistem tanam organik itu menjadi mumuk yang menakutkan bagi pemiliknya.

Kita sendiri telah melupakan sejarah itu dan mencoba untuk bangkit dalam program swasembada pangan pada masa orde baru. Alhasil kesuksesan diraih dan hasil panen melimpah ruah dengan paksaan pupuk subsidi kimia yang memaksa unsur hara tanah untuk mengeluarkan segala energinya. Indonesia yang sebelumnya impor pangan telah merubah fakta menjadi ekspor pangan yang kompetitif. Walaupun efek negatif atas penerapan pupuk kimia (semacam urea, Za, KCl) sangat merusak kesuburan tanah yang membuat organisme pembentuk unsur hara tanah berkurang populasinya bahkan bisa mati.

Kabinet kerja Jokowi mencoba untuk bangkit kembali untuk mengembalikan label Indonesia sebagai raja pertanian dunia dengan membuat program-program swasembada pangan walaupun secara substantif masih tetap dipertahankan. Pof. Surono Danu pejuang pertanian mengkritik keras Pemerintah untuk tidak membuat program ketahanan pangan melainkan swasembada pangan. Ketahanan pangan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri sehingga tidak mampu mengangkat petani secara ekonomi sedangkan swasembada pangan akan mencukupi pangan sendiri dan mampu meekspor pangan yang mampu mengangkat derajad hidup petani.

Pertanyaan yang sangat mendasar ialah kenapa Petani sebagai tulang punggung keberlangsungan kehidupan tidak mampu mensejahterakan kehidupan Petani? Ya itu terjadi karena Pemerintah setengah hati untuk menerapkan program swasembada pangan yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh mafia pertanian yang tidak terlihat secara kasat mata, mereka seperti hama yang memakan sari pati tanaman. Mafia pertanian tersebut ikut serta merancang yang seolah-olah Program Pemerintah sangat progresif walaupun secara de facto hanya menguntungkan mereka saja. Jelas hal ini korbannya adalah Petani yang kualitas SDMnya dibawah rata-rata karena akses pendidikan yang semakin melangit.

Pemberian pupuk bersubsidi seyogyanya hanya mengikis kreatifitas petani dan selalu hidup bergantung pada bantuan semata. Bayangkan pupuk dan beras bersubsidi yang dikenal Raskin (sekarang Rastra) merupakan satu kesatuan rentetan dari mafia pertanian. Pupuk yang dipatok harga mahal oleh perusahaan kemudian dibeli oleh Pemerintah dan dijual lagi pada Petani dengan harga yang murah telah gagal mengangkat ekonomi masyarakat. Sedangkan Raskin dari Bulog juga telah memanjakan Petani yang dianggap sebagai subjek ekonomi kelas bawah.

Secara logis memang aneh petani sebagai penghasil pangan namun mereka tidak mampu memenuhi pangannya sendiri apalagi kebutuhan lainnya yang semakin kompleks. Padahal secara historis penjajahan terjadi karena hasil buminya yang melimpah ruah. Mari kita coba ulas causalitas capitalism dan imprealism oleh Bangsa sendiri.

Program swasembada pangan Indonesia yang dicanangkan Pemerintah selalu gagal dan solusi terkilat adalah impor pangan. Kejadian yang dipertontonkan ke publik ini selalu terjadi ketika Pemerintah mencoba untuk menyetop impor pangan dari beberapa Negara. Dalam ranah praksis terlihat jelas terjadi kongkalikong antara tengkulak besar perusahaan pangan, Bulog dan Pemerintah. Banyak gabah tidak diserap oleh BULOG sehingga pasokan gabah diklaim sangat minim untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional.

Ada beberapa tradisi bisnis tutup mata ini yaitu : pertama, setiap tahun selalu terjadi gagal panen baik akibat faktor alam maupun human error. Hal seperti ini seharusnya menjadi tugas pejabat pertanian dibawah naungan Kementrian Pertanian untuk antisipasi terjadinya kegagalan. Serangan hama yang terjadi beruntun disengaja dibiarkan untuk kemudiakan memuluskan niat jahat impor. Bahkan ativis petani menyatakan bahwa hama bisa dikembangbiakkan melalui rekayasa biologis.

Kedua, pemerintah tidak pernah melakukan kontrol standar harga gabah pasca panen raya sehingga pasca panen petani harus menerima pil pahit dengan menjual hasil panen dengan harga rendah. Seharusnya Pemerintah membeli hasil pertanian dengan harga mahal kemudian dijual murah kepada masyarakat, anggaran untuk subsidi pupuk dan rastra harus distop dan dialihkan. Dengan cara seperti ini maka dapat meningkatkan ekonomi Petani dari pada bantuan subsidi pupuk dan Rastra yang di didik untuk miskin dan kolot.

Ketiga, subsidi bahan pertanian seperti pupuk adalah mafia kelas wahid, pupuk bersubsidi pada tahun 2017 menelan dana APBN sebesar 27,94 triliun dengan volume pupuk sebanyak 8,5 juta ton dengan dana cadangan sebesar 3,26 triliun (1 juta ton) ditambah dengan benih pangan 1,3 triliun (116.500 ton) dengan jumlah total 32,5 triliun. Pada tahun 2016 lalu dana hibah sebesar 31,083 triliun tidak mampu menggenjot pangan Indonesia dan lagi-lagi alasan Pemerintah gagal panen akibat serangan hama dan alam. Siapa yang menikmati? Disinilah tikus berdasi berlindung dan memangsa uang haram milik Petani mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat regional.

Keempat, Bulog tidak menguntungkan Petani sebaliknya bulog malah menguntungkan pemodal (tengkulak). Proses pembelian yang dilakukan Bulog tidak dapat dijangkau masyarakat karena minimnya akses informasi yang seolah-olah tertutup. Bulog hanya duduk manis dan membeli dari partner-partner kerjanya (tengkulak). Ada kejanggalan dan ini mungkin saja ada hubungannya dengan impor pangan yang merugikan Petani. Demi menjaga bisnis gelap impor pangan yang lebih menguntungkan secara pribadi.

Mirisnya para aktivis melewati pantauannya terhadap dunia pertanian walaupun Bangsa kita sebenarnya adalah Petani yang hebat pada masanya. Pertanian yang digandrungi oleh bangsa-bangsa asing pada era pra kemerdekaan dan dicuri secara sadis pada era modern oleh saudara kita sebangsa yang berdasi yang berpura-pura menjadi Petani. Jika buruh mampu mengepung istana pada Mayday kenapa kita tidak bisa mengepung istana dalam Farmers Day? ayo kawan turun ke kampung-kampung dan ajak mereka berdialog.

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama