PROPAGANDA POLITIK



Tahun 2017 sampai tahun 2019 disebut banyak orang sebagai Tahun Politik, disebut demikian karena menjelang Pesta Demokrasi 5 tahunan Pilpres dan Pileg pada tahun 2019. Selain itu adanya Pilkada serentak yang diikuti 115 Kabupaten, 39 Kota dan 17 Provinsi se indonesia pada tahun 2018 yang lebih banyak dari pada tahun sebelumnya juga menjadi ajang pemanasan menuju 2019. Bumbu-bumbu politik sudah mulai diracik baik yang rasa pedas, manis, pahit dan sedap di berbagai media dengan tujuan branding kandidat maupun untuk menjatuhkan lawan.

Fenomena menarik ialah ketika isu dimunculkan dari Media Sosial dibuat seolah-olah ada fakta terjadi karena ada rangkaian pesan yang memiliki tujuan untuk mempengaruhi pendapat dan perilaku masyarakat. Propaganda ini dibuat secara sistematis tapi tidak objektif yang seolah-olah ada kebenaran dan fakta.

Belajar dari propaganda perang dunia ke II, setelah Hitler diangkat sebagai Kanselir Jerman pada tanggal 30 Januari 1933, Nazi dengan terang-terangan memulai penghancuran sistematis terhadap kebebasan pers, dimulai dengan pengusiran siapa pun yang tidak taat pada garis kebijakan partai dalam kegiatan jurnalistik. Hal ini dilakukan melalui kombinasi kekuatan, penangkapan politik, dan pengasingan. 

Pasca Black Propaganda sukses dilakukan kemudian Propaganda Agitasi digerakkan dengan menyebarkan poster gambar, pamflet, media cetak dan pemutaran film yang menggambarkan Hitler sebagai seorang mesianis (juru selamat), disisi lain adanya Black Propaganda untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya seperti Yahudi dan kaum Bolshevik yang tak diinginkan. Yang patut dicatat pula bahwa kekalahan Uni Soviet dari Amerika karena kelompok Propagandis Amerika yang sangat luar biasa.

Pada era modern propaganda yang terjadi dalam pesta Demokrasi terjadi di Pilpres Amerika tahun 2016 silam. Banyak media international menyatakan kemenangan Donald Trump merupakan efek dari Propaganda yang dilakukan timsesnya sendiri bahkan kecurigaan tersebut ada yang menyebutkan dibantu oleh Rusia yang merupakan Negara Propagandis saingan Amerika.

Ketika berbicara pesta Demokrasi dalam negeri yang menarik perhatian adalah Pilkada Jakarta tahun 2017, karena banyak pihak diluar Jakarta merasa dirinya harus berjuang mengalahkan Ahok sebagai petahana. Isu penista agama terus mengalir deras ke pelosok Desa dan mengundang sebagian kelompok muslimin untuk bergerak ke jakarta dengan tujuan mengalahkan Ahok.

Terlepas masalah hukum Ahok, penulis ingin menyampaikan beberapa fakta bahwa dibalik grand issue penista agama ada sub-sub isu yang diikut sertakan. Misalnya anti Ulama, anti Habaib, PKI bangkit dsb. Dampak dari issue tersebut kemudian berkurangnya kinerja Pemerintah karena selalu melakukan klarifikasi sebuah bentuk pertahanan atas serangan Propaganda oposisi.

Bentuk Counter Attack (serangan balik) Pemerintah ialah dengan membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena dianggap salah satu Propagandis. Memang HTI didunia international dikenal sebagai organisasi ahli propaganda integrasi yang menanamkan doktrin ideologi Khilafah. Selain itu bentuk pertahanan Pemerintah ialah dengan melakukan revisi terhadap Undang-Undang Organisasi yang mewajibkan untuk mengamalkan Pancasila.

Media propaganda pada era digital memang lebih cepat dibanding pada masa-masa sebelumnya karena propaganda selain dilakukan dalam forum-forum publik juga disebarkan melalui media elektronik dan media sosial. Menurut penelitian oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet indonesia (APJII) pengguna internet di Indonesia mencapai 54,68 % dari populasi Indonesia dan 65 % penikmat internet percaya mentah-mentah informasi media sosial.

Tujuan besar dari issue atau informasi yang tersebar tersebut ialah untuk mengurangi elektabilitas Presiden dan Parpol pengusung sehingga akan muncul solusi pergantian Presiden di Pemilu 2019 mendatang. Akhir-akhir ini PKS melaunching kaos dengan tulisan #GANTI PRESIDEN 2019 dan memaksa masyarakat (informan) untuk mencetak sendiri demi perubahan Indonesia.

Propaganda tersebut berdampak pada organisasi Islam terbesar sedunia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat toleran dan dianggap lebih pro terhadap kelompok non muslim dari pada umat muslim sendiri. Isu tersebut kemudian berkembang dengan informasi-informasi yang sangat merugikan NU itu sendiri.

Kelompok intelektual menyadari bahwa propaganda hitam dan putih baik dari oposisi maupun dari Pemerintah tidak mengedepankan gagasan Indonesia jangka pendek 2019-2024. Yang ada hanya serangan, bantahan dan serangan balik atas isu yang dibuat.  Yang pro Pemerintah juga melakukan pembelaan mati-matian sedangkan pihak oposisi selalu menyalahkan pihak pemerintah yang kadang tanpa fakta dan rasionalitas.

Kita harus mampu menyaring setiap informasi yang tersebar dimedia dengan cara analisa sebelum dimakan mentah-mentah. Tulisan ini tidak memiliki maksud untuk menyudutkan kelompok manapun tapi karena kegelisahan penulis terhadap keadaan masyarakat akhir-akhir ini.

30 Maret 2018

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama