Disiang itu saya melihat sejumlah pemuda dan beberapa tokoh ditempat saya biasa melakukan aktivitas ngopi. Sepertinya mereka dari kalangan pemuda LSM, tokoh Desa dan wartawan online lokal. Disiang yang amat panas itu, mereka mencoba meraba-raba konstalasi perpolitikan nasional yang sedang hangat diperdebatkan (bukan di diskusikan).
Dari perbincangan hangatnya kopi itu mereka memperdebatkan Pilpres 2019 yang menjadi trending topik di media sosial. Namun perdebatan itu tidak begitu berjalan mulus karena mereka sepakat, sepaham dan sepihak bahwa salah satu paslon Pilpres itu salah total. Refrensi yang mereka gunakan bersumber dari media sosial yang dianggap kredibel.
Kopi dicangkir ku masih sisa 50%, karena kenikmatan kopinya hanya 10% saja, aku pun beranjak dari tempat simpuhku itu lalu pergi ke salah satu minimarket untuk membeli snack dan obat nyamuk merek Baygon. Mesin motor belum mati sempurna, juru parkir itu sudah sibuk berdebat hal yang sama dengan isu yang sama pula, sepertinya lawan bicaranya jukir itu tukang becak yang kecanduan smartphone (sambil ngobrol gak begitu santai, dia sambil ngotak ngatik Smartphone cerdasnya).
Saya teringat ketika waktu kecil, SD kelas 3, saya jagain toko milik ibu saya yang kebetulan ibu lagi nyuci baju di sungai. Temen saya Taufik beli obat nyamuk ditoko klontongku, “beli baygon satu kak” pintanya. “500 rupiah pik” sahutku sambil menyodorkan obat nyamuk gambar kingkong. Setelah si Taufik menerima obat nyamuk bakar itu dia bergegas pulang.
Dari cerita masa lampau itu, ternyata orang Madura memiliki karakter fanatik terhadap produk-produk yang dia kenal pertama kali. Masyarakat secara kompak akan menyebut kata baygon untuk semua jenis obat nyamuk, sebutan Aqua untuk semua merk air mineral, honda untuk kendaraan roda dua dan berbagai produk lainnya. Bahkan produk yang dikenal pertama kali akan menjadi brand se Madura raya. Orang Madura lebih mengenal simbol untuk menunjuk brand yang dia suka.
Sama persis ketika kita mendengar isu politik untuk pertama kalinya, maka isu itu bukan hanya menjadi trending topik melainkan akan menjadi pijakan berpikir. Ini terjadi karena kita memiliki sifat fanatisme lebih tinggi dari pada suku lainnya. Selain itu kita tidak pernah mencoba melakukan analisis minimal dengan metode expost facto (sebuah eksperimen yang mengandung fenomena dari faktor kausalitas/ sebab akibat). Mungkin kita teringat brand-brand poitik masa keemasan orde baru (korelasi dan koflik antara agama dan politik).
Ditahun yang lalu (2017) ketika saya masih tinggal disalah satu kampung Pantura Sampang. saya sering diajak sharing oleh ustad dan beberapa tokoh (perawat sapi karapan), saat itu kasus Ahok dengan penistaannya jadi perbincangan panas dikampung itu. Keresahan warga itu nampak dari obrolan yasinan dan sholawatan karena munculnya Ahok, Jokowi dan PKI. Bahkan anak-anak mereka dijaga agak ketat agar tidk menjadi korban penculikan.
Ngerinya lagi pada tanggal 4 November 2017 setelah sholat jumat ratusan orang berkumpul didepan rumahku, salah satu tetanggaku mengetok pintu rumah sambil menyebut namaku “lek Ali..... toreh norok lek” ajaknya. Aku pun keluar dengan kemeja putih panjang, kopyah hitam, sarung biru dan balutan surban hijau yang mengelilingi leherku.
“Toreh (ayo)” jawabku secara santun pada tukang ojek yang mengajakku, dalam rombongan itu saya mengambil posisi paling depan, sedangkan mereka ada dibarisan dibelakang ku dengan formasi 1-10-100, puluhan sepeda motor dan 4 mobil pickup dibelakangnya. Sesampainya dilapangan bola yang disulap menjadi lapangan perjuangan itu, rombongan berada digaris terdepan sedangkan saya duduk diwarung paling belakang bersama salah satu tokoh Desa disana. Kali ini bukan kopi tapi teh pucuk dingin yang menemaniku.
Bukan hanya dalam dunia nyata, dunia maya pun dipenuhi dengan aksi-aksi heroik keumatan, di facebook bukan hanya terjadi perdebatan saja, tapi sudah tahap pem-bully-an dengan menuduh teman saya sebagai PKI. Padahal teman ku itu cucu dari seorang Kiai yang dikagumi dikampung kelahiranku. Latar belakang ke-NU-annya tidak diragukan lagi, bahkan sejak kecil temanku hidup di Pesantren dan lanjut study di salah satu perguruan tinggi islam terkemuka di Jatim. Masalahnya sepele karena hanya dia mencoba berargumen tentang fatwa MUI.
Memang benar adanya bahwa informasi yang ditangkap otak manusia akan menjadi doktrin irasional karena dikaitkan dengan doktrin agama. Saya teringat kata teman saya dari Jogja ketika bertemu di Jakarta tahun 2017 lalu, dalam politik apapun bisa terjadi baik isu yang dirancang sebagai propaganda votersnya agar terjadi seolah-olah kenyataan.
Setelah nampak kenyataan maka kita akan disodorkan dengan teori Current Events (persitiwa terkini), bahwa keadaan genting secara domestik telah terjadi dan fakta politik nasional yang dipengaruhi fakta internasional akan segera melanda Negeri ini. Secara domestik akan muncul pemimpin kafir, anti Ulama, intimidasi, kebangkitan PKI, dikuasai China dan berbagai isu lainnya, sedangkan masalah luar negeri disini berkaitan dengan invasi ekonomi China terhadap ekonomi Indonesia.
Kita sadar betul bahwa pengaruh ekonomi lama (Amerika) dan munculnya kekuatan ekonomi baru (China) menjadi tolak ukur kekuatan politik diberbagai Negara termasuk Indonesia. Kata teman saya, ketika diskusi disalah satu Hotel di Surabaya, dia menyatakan bahwa kita ini sibuk dengan perdebatan yang tidak substantif, padahal perang dagang Amerika dan China sudah nampak dibeberapa negara Asia pasifik. Sedangkan isu politik yang dimainkan adalah isu unta vs panda (arab - china) atau islam - non muslim untuk mengelabuhi akal berpikir kita.
Dari berbagai ketidak pahaman saya dalam konflik interest yang berdampak dalam tataran gressroot ini, saya mencoba menghindar dan menjauhkan diri dari berita-berita politik, isu yang bersleweran dan perdebatan yang kurang manfaatnya minimal terhadap saya pribadi. Bahkan saya harus rela memusuhi televisi yang saya beli dari keringat saya sendiri.
Saya mencoba menetralisir dengan cara menghindar dari berbagai berita hoax maupun fakta politik yang sengaja untuk mempengaruhi akal sehat. Bagi saya politik itu menyenangkan karena dalam politik ada seni untuk mempengaruhi orang lain berbuat kebaikan, bukan mempengaruhi orang lain untuk merusak persahabatan. Politik bukan merusak tatanan tapi politik memperbaiki yang belum tertata. Saya masih yakin bahwa politik adalah jalan untuk mewujudkan kebaikan walaupun hari ini selalu disuguhkan dengan politik personal.
Dari perbincangan hangatnya kopi itu mereka memperdebatkan Pilpres 2019 yang menjadi trending topik di media sosial. Namun perdebatan itu tidak begitu berjalan mulus karena mereka sepakat, sepaham dan sepihak bahwa salah satu paslon Pilpres itu salah total. Refrensi yang mereka gunakan bersumber dari media sosial yang dianggap kredibel.
Kopi dicangkir ku masih sisa 50%, karena kenikmatan kopinya hanya 10% saja, aku pun beranjak dari tempat simpuhku itu lalu pergi ke salah satu minimarket untuk membeli snack dan obat nyamuk merek Baygon. Mesin motor belum mati sempurna, juru parkir itu sudah sibuk berdebat hal yang sama dengan isu yang sama pula, sepertinya lawan bicaranya jukir itu tukang becak yang kecanduan smartphone (sambil ngobrol gak begitu santai, dia sambil ngotak ngatik Smartphone cerdasnya).
Saya teringat ketika waktu kecil, SD kelas 3, saya jagain toko milik ibu saya yang kebetulan ibu lagi nyuci baju di sungai. Temen saya Taufik beli obat nyamuk ditoko klontongku, “beli baygon satu kak” pintanya. “500 rupiah pik” sahutku sambil menyodorkan obat nyamuk gambar kingkong. Setelah si Taufik menerima obat nyamuk bakar itu dia bergegas pulang.
Dari cerita masa lampau itu, ternyata orang Madura memiliki karakter fanatik terhadap produk-produk yang dia kenal pertama kali. Masyarakat secara kompak akan menyebut kata baygon untuk semua jenis obat nyamuk, sebutan Aqua untuk semua merk air mineral, honda untuk kendaraan roda dua dan berbagai produk lainnya. Bahkan produk yang dikenal pertama kali akan menjadi brand se Madura raya. Orang Madura lebih mengenal simbol untuk menunjuk brand yang dia suka.
Sama persis ketika kita mendengar isu politik untuk pertama kalinya, maka isu itu bukan hanya menjadi trending topik melainkan akan menjadi pijakan berpikir. Ini terjadi karena kita memiliki sifat fanatisme lebih tinggi dari pada suku lainnya. Selain itu kita tidak pernah mencoba melakukan analisis minimal dengan metode expost facto (sebuah eksperimen yang mengandung fenomena dari faktor kausalitas/ sebab akibat). Mungkin kita teringat brand-brand poitik masa keemasan orde baru (korelasi dan koflik antara agama dan politik).
Ditahun yang lalu (2017) ketika saya masih tinggal disalah satu kampung Pantura Sampang. saya sering diajak sharing oleh ustad dan beberapa tokoh (perawat sapi karapan), saat itu kasus Ahok dengan penistaannya jadi perbincangan panas dikampung itu. Keresahan warga itu nampak dari obrolan yasinan dan sholawatan karena munculnya Ahok, Jokowi dan PKI. Bahkan anak-anak mereka dijaga agak ketat agar tidk menjadi korban penculikan.
Ngerinya lagi pada tanggal 4 November 2017 setelah sholat jumat ratusan orang berkumpul didepan rumahku, salah satu tetanggaku mengetok pintu rumah sambil menyebut namaku “lek Ali..... toreh norok lek” ajaknya. Aku pun keluar dengan kemeja putih panjang, kopyah hitam, sarung biru dan balutan surban hijau yang mengelilingi leherku.
“Toreh (ayo)” jawabku secara santun pada tukang ojek yang mengajakku, dalam rombongan itu saya mengambil posisi paling depan, sedangkan mereka ada dibarisan dibelakang ku dengan formasi 1-10-100, puluhan sepeda motor dan 4 mobil pickup dibelakangnya. Sesampainya dilapangan bola yang disulap menjadi lapangan perjuangan itu, rombongan berada digaris terdepan sedangkan saya duduk diwarung paling belakang bersama salah satu tokoh Desa disana. Kali ini bukan kopi tapi teh pucuk dingin yang menemaniku.
Bukan hanya dalam dunia nyata, dunia maya pun dipenuhi dengan aksi-aksi heroik keumatan, di facebook bukan hanya terjadi perdebatan saja, tapi sudah tahap pem-bully-an dengan menuduh teman saya sebagai PKI. Padahal teman ku itu cucu dari seorang Kiai yang dikagumi dikampung kelahiranku. Latar belakang ke-NU-annya tidak diragukan lagi, bahkan sejak kecil temanku hidup di Pesantren dan lanjut study di salah satu perguruan tinggi islam terkemuka di Jatim. Masalahnya sepele karena hanya dia mencoba berargumen tentang fatwa MUI.
Memang benar adanya bahwa informasi yang ditangkap otak manusia akan menjadi doktrin irasional karena dikaitkan dengan doktrin agama. Saya teringat kata teman saya dari Jogja ketika bertemu di Jakarta tahun 2017 lalu, dalam politik apapun bisa terjadi baik isu yang dirancang sebagai propaganda votersnya agar terjadi seolah-olah kenyataan.
Setelah nampak kenyataan maka kita akan disodorkan dengan teori Current Events (persitiwa terkini), bahwa keadaan genting secara domestik telah terjadi dan fakta politik nasional yang dipengaruhi fakta internasional akan segera melanda Negeri ini. Secara domestik akan muncul pemimpin kafir, anti Ulama, intimidasi, kebangkitan PKI, dikuasai China dan berbagai isu lainnya, sedangkan masalah luar negeri disini berkaitan dengan invasi ekonomi China terhadap ekonomi Indonesia.
Kita sadar betul bahwa pengaruh ekonomi lama (Amerika) dan munculnya kekuatan ekonomi baru (China) menjadi tolak ukur kekuatan politik diberbagai Negara termasuk Indonesia. Kata teman saya, ketika diskusi disalah satu Hotel di Surabaya, dia menyatakan bahwa kita ini sibuk dengan perdebatan yang tidak substantif, padahal perang dagang Amerika dan China sudah nampak dibeberapa negara Asia pasifik. Sedangkan isu politik yang dimainkan adalah isu unta vs panda (arab - china) atau islam - non muslim untuk mengelabuhi akal berpikir kita.
Dari berbagai ketidak pahaman saya dalam konflik interest yang berdampak dalam tataran gressroot ini, saya mencoba menghindar dan menjauhkan diri dari berita-berita politik, isu yang bersleweran dan perdebatan yang kurang manfaatnya minimal terhadap saya pribadi. Bahkan saya harus rela memusuhi televisi yang saya beli dari keringat saya sendiri.
Saya mencoba menetralisir dengan cara menghindar dari berbagai berita hoax maupun fakta politik yang sengaja untuk mempengaruhi akal sehat. Bagi saya politik itu menyenangkan karena dalam politik ada seni untuk mempengaruhi orang lain berbuat kebaikan, bukan mempengaruhi orang lain untuk merusak persahabatan. Politik bukan merusak tatanan tapi politik memperbaiki yang belum tertata. Saya masih yakin bahwa politik adalah jalan untuk mewujudkan kebaikan walaupun hari ini selalu disuguhkan dengan politik personal.
