Menuju Demokrasi Milenial



Kaum milenial yang identik dengan teknologi komunikasi dan informasi telah memberikan perubahan nyata dari berbagai bidang. Dalam bisnis telah mampu menggeser pola-pola konvensional yang sudah turun temurun ke arah bisnis yang dikenal dengan istilah disruption yang serba digital.

Kelompok milenial ini membuat gebrakan dengan cara baru sehingga mampu membuat oleng perusahaan lama yang sudah cukup terkenal. Munculnya gojek dan grab misalnya, telah menggeser transportasi konvensional seperti perusahaan Blue bird, sedangkan Lazada dan JD telah mampu menurunkan omset Ramayana dan Matahari. Kamera, telepon rumah dan Pagger telah menjadi satu di Smartphone.

Kaum milenial juga merambat ke dunia kuliner, literasi, perfilman, musik, wisata dan bidang-bidang lainnya. Dalam demokrasi, kelompok milenial muncul ditengah-tengah tahapan kampanye dengan membuat kampanye lebih menarik dan kekinian baik bentuk dukungan maupun kritikan.

Walaupun keterlibatan generasi milenial dalam politik cenderung kecil hanya berkisar 5,2 % hingga 5,8 %, dan sebagian besar dari generasi ini pasif dalam organisasi dan partai politik hingga mencapai 75 %. Namun pengguna hak pilih cenderung besar pada Pemilu 2019. Menurut data KPU partisipasi masyarakat mencapai 81 % lebih, melebihi target nasional 77,5 %. Itu artinya mayoritas pemilih milenial telah menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019.

Menurut LIPI ada sekitar 35 – 40 % atau sekitar 80 juta pemilih milenial dari jumlah DPT 192 juta pada Pemilu 2019. Hal ini menunjukkan bahwa dominasi kelompok generasi Y ini lebih dominan dalam proses pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Sehingga pengaruh perubahan tidak bisa diabaikan.

Harus diakui kesuksesan Pemilu 2019 salah satunya karena program media informasi KPU RI dengan berbagai terobosannya, seperti aplikasi yang bernama KPU RI Pemilu 2019 yang memberikan berbagai informasi seputar Pemilu dan Sistem Informasi Penghitungan Suara yang dikenal dengan nama Situng sebagai media transparansi Kepemiluan.

Walaupun masih ada kekurangan terkait penerapan teknologi tersebut, namun KPU telah mampu melaksanakan tahapan Pemilu 2019 dengan cukup baik. Kedepannya mungkin KPU akan melakukan langkah-langkah yang progresif untuk melakukan perubahan kekinian yang serba aplikasi.

Kedepan kelompok milenial diharapkan memberikan perubahan yang signifikan pada pesta demokrasi yang akan datang. Dengan partisipasi aktif dapat memberikan dampak positif terhadap perbaikan-perbaikan sistem Pemilu di Indonesia.

Wacana menggunakan e-voting atau i-voting terus mengalir dikalangan milenial, hal ini telah diterapkan dibeberapa negara maju seperti Amerika, Prancis, Swiss, Estonia bahkan Negara tetangga Filipina. I-voting lebih rentan cyber crime karena berbasis internet sedangkan e-voting (electronic voting) lebih cenderung aman karena tidak menggunakan internet tapi menggunakan perangkat khusus.

Jika ini terwujud pada Pemilu 2024 maka partisipasi kelompok milenial dalam demokrasi akan semakin meningkat dan mampu membawa perubahan nyata. Karena pemuda jaman now ini lebih rasional, kreatif dan inovatif sehingga nasib Bangsa Indonesia yang bergantung pada Demokrasi akan semakin baik kedepannya.

4 Agustus 2019



Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama