Mengenang Agustus


Agustus adalah bulan spesial bagi Bangsa Indonesia karena tercatat sebagai sejarah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah panjang yang melibatkan banyak manusia pejuang mati di medan pertempuran demi sebuah kemerdekaan.

Kita bukan melupakan sejarah kemerdekaan tapi kita tidak pernah mengenal Agustusan, kita tidak tau bahwa prajurit Mataram harus dikuburkan oleh senjata VOC, kita tidak paham bahwa Soekarno dibui dan diasingkan berkali-kali, kita tidak mau tau bahwa ratusan ribu bahkan jutaan manusia darahnya mengalir ditanah kelahirannya sendiri.

Bahkan banyak pemuda acuh tidak acuh dengan sejarah lahirnya organisasi Boedi Oetomo, seolah kita amnesia terhadap sejarah palapa dan sumpah pemuda, dan kita benar-benar buta sejarah bahwa pemuda memaksa soekarno untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Pemuda jaman now lebih suka main PUBG, COC, atau Mobile Legends, atau mereka lebih suka viral dengan berbagai cara yang katanya milenial. Sensasi medsos yang menampilkan ala-ala bos, pamer kecantikan dengan paha dan dada sedikit ditonjolkan, atau pamer kecerdasan yang tanpa sengaja mempertontonkan ketololan.

Mereka merasa pahlawan online yang harus dikagumi para netizen, terpesona dengan prestasi-prestasi dunia maya yang seolah nyata atau dunia nyata yang dimayakan. Jika bicara online saya lebih sepaham dengan Larry Page, Andy Rubin, Bill Gates, Jac Ma, atau Nadiem Makarim, yang merubah ide sederhana menjadi perubahan luar biasa yang sering diistilahkan disruption.

Kelompok milenial Indonesia banyak tersesat dari hal-hal online yang kurang produktif, sehingga memiliki predikat penyebar Hoax terbesar dengan persentase 77,76%. Salah satu penyebabnya adalah minimnya bahan proses belajar yang sesuai dengan eranya.

Milenial atau Gen Y ini lebih banyak cuek terhadap nilai-nilai Agustus 1945, sedangkan kelompok tua (Gen X) sebagai fasilitator Agustusan selalu membuat seremonial yang kurang mendidik dan justru mempertahankan mental inlander warisan jajahan.

Namun mengenang agustus tidak selevel mengenang mantan pacar, kalau putus cinta kemudian dikenang akan membuat air mata berjatuhan. Beda dengan mengenang Agustus yang seharusnya lebih sakral dari pada hanya sakit hati maupun kalah nyaleg dalam momentum Pemilu.

Agustus seharusnya menjadi Afdolusyuhur-nya bulan Indonesia, bukan hanya sekedar lomba panjat pinang dan upacara bendera saja. Seharusnya bulan sakral ini dijadikan momentum mengenang, mengenal dan mengamalkan perjuangan para pahlawan Bangsa Indonesia.

Menciptakan karya-karya kreatif kekinian yang bermanfaat untuk kemajuan Bangsa dan Negara atau minimal diadakan sedekah dengan tajub 1 orang kaya membantu 1 orang miskin. Atau kegiatan lainnya yang bermental pemuda Agustus yang Merdeka.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 74
Jaya dan maju Indonesia ku. Merdekaaa.....

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama