Bulan Sabit diatas Kos


Kala itu, malam yg membentang begitu amat panjang bagiku, malam yang menghabiskan pikiran,  begitu pun hati yang begitu gelisah.

Malam itu bulan tak membantu ku, tidak seperti dulu ketika aku menghabiskan malam didepan kos sembari menikmati hangatnya kopi di dinginnya Malang.

Kadang aku rindu masa itu,,, masa gejolak batin, masa dimana aku harus berdiri merubah segalanya, dan aku pun mampu merubahnya.

Aku Rindu kopi karborat yang tdk akan pernah ada lagi dimana pun, atau penyetan, tahu tek, ayam krispi, tempe dan mie goreng atau menikmati musik keroncong dlm perut dimusim panceklik akhir bulan.

Selalu ku kenang teman terbaikku, menyendiri hanya bersamanya di sudut2 ruang kos, Buku jangan jauhi diriku, kau bukan untuk dikenang tapi untuk kutanam bersama pikiran.

Ketika aku dijalanan, tak ada satupun yang ku takuti, siapapun ku lawan termasuk hawa nafsu yg tampil menyerang. Kebebasan yang tak akan kembali lagi.

Entah perang batin yang tak pernah usai telah mengantarkan ku pada perasingan. Memberikan ku kabar bahwa bumi ini tempat duka, malapetaka, senang, sedih, kemunafikan, kebencian ditambah lagi dg kawan2ku harus menjadi lawan.

Diperasingan ini, dipetapaan ku yang tak membuat ku khusuk. Aku harus berpikir seribu malam lagi, melewati segala musim yang tak begitu sempurna, dimulai dari bulan sabit yang tak sembunyi sampai sembunyi dimusim penghujan.

Jika kegagalan ku dicatat oleh bulan, tentunya dia akan mengabarkan nya pada mentari esok pagi, seperti bulan diatas kosku yang selalu perhatian padaku kala itu.

Bulan yang melewati bulan sabit itu, malam 11 Muharrom, jiwaku berbisik pada kerikil depan rumah kelahiran ku "jadilah dirimu sendiri dan segera turun dari gunung itu".

Rebut kembali kejayaan, ciptakan perdamaian, keindahan, kebahagiaan dan tentunya kemerdekaan, fiksi ini dipaksa untuk nyata.

Esok atau esoknya lagi aku tetap bersamamu tanpa takut lawan yang tak nampak.
Bagaimana pun, aku butuh teman ngopi, secangkir kita nikmati bersama dan sebatang rokok kita hisab bergantian.

Kawan, jangan pernah takut kehilangan, rayakanlah kehilangan itu dengan pesta keikhlasan.

Kawan, biarkan alam menyaksikan ini semua dan suatu saat kau akan paham.
Dan saatnya turun gunung untuk mendapatkan yang tak pernah kita rasakan. Hiruplah udara malam walau tak sedingin Malang.

Kawan, jika Manusia tidak mencintai mu, biarkan alam yang menyayangimu, dan Allah maha pengasih dan maha penyayang. (22/09/18)

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama