Praktik Tidak Sehat di Rumah Sakit Sampang


Cerita fakta
Setiap malam saya berkumpul dengan beberapa aktivis kesehatan yang melakukan pengawalan terhadap pasien di RSUD Sampang, curhatan demi curhatan dicurahkan oleh kader pendamping mengenai pelayanan yang jauh dari standart. Tentang penanganan awal, pendaftaran, pembelian obat, perawatan bahkan praktik operasi.
Saya melihat dengan kepala saya sendiri ketika nenek saya sakit dan dirawat inap di RSUD Sampang beberapa bulan lalu, diruang berkelas Pavilium. Saya kaget ketika ditengah malam kehabisan cairan infus dan beberapa obat, tiba-tiba perawat datang menawarkan jasa untuk melakukan pembelian cairan infus dan obat-obatan yang dibutuhkan.
Terus saya Tanya setengah hardik “loh itu kan memang tugas ibu..?” si perawat menjawab : “kalo apotik jam segini tutup mas, kalo sampean mau ini ada untuk pembayaran nanti bayar di resepsionis pavilium”. Aku heran, kenapa kasir umum gak berfungsi untuk sebagian pembayaran, sedangkan saya suruh bayar pada perawat tanpa kwitansi. Aku terdiam dan memang tidak mau ribut dengan orang sekelas perawat, pikirku mungkin si ibu ini masih tidak cukup gajinya untuk bersolek.
Tidak selesai disitu, esok harinya ketika mau memasang jarum infus, ada perawat yang masih muda dan satunya setengah tua. Untuk memasang infus saja membutuhkan lebih 20 menit dengan percobaan 4 kali suntikan dengan 3 kali melenceng alias tidak tepat sasaran dan hanya suntikan terakhir saja yang benar, mirip pemain bola amatir kampungan yang bermain di kelas Super Leuage.
Percuma memang bayar umum kelas 1 namun praktik kayak mal praktik, sampai hari ini nenekku mengalami trauma besar menghadapi dokter apalagi sampai dirawat di Rumah Sakit. Menurut nenekku, lebih baik ke dukun karena dilayani dengan penuh ikhlas dan lebih berakhlak dibanding ke Rumah Sakit yang dilayani dengan tidak wajar. Nenekku yang seharusnya di operasi karena mengalami penyakit gagal ginjal, sampai sekarang hanya dirumah tanpa dokter.
Ada juga temanku yang bernama Abdul, seorang aktivis kampung yang bergabung disalah satu LSM kesehatan di Sampang. Dia setiap mendampingi pasien KIS dan BPJS pasti ada berbagai keangkeran diruang resepsionis. Ada jelmaan wanita berkerudung dengan mengenakan baju pink menawarkan sejumlah jasa, ya kerumunan wanita yang kurang menarik itu menjual beberapa obat-obatan yang konon tidak akan ada di apotik Rumah sakit. Si abdul itu hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil berpikir “emang kalo di apotik dalam gak ada, disini kok menjualnya” apa ini yang namanya obat illegal? Dijual dengan cara haram?
Si Abdul pun melanjutkan ceritanya, semua pasien KIS dan BPJS pasti ada sebagian obat-obatan yang beli di apotik luar. Abdul berbicara setengah bertanya “Bukankah KIS dan BPJS itu ditanggung biayanya oleh JKN karena sudah bayar iuran perbulan bung? Aneh bin mustahil tapi fakta, cetusnya.
Si Rahmad menyambung, iya dul memang kayak gitu sudah biasa terjadi, tapi ada yang lebih aneh dul, saya sudah melihat data dan ada beberapa temuan kejanggalan dalam pengadaan alkes dan obat-obatan, ada juga pemotongan gaji karyawan dan penggelapan lainnya. Ya unsur Tipikor memang jelas, tapi sayang hukum di Indonesia itu tumpul kayak burung mu dul.
Hehehehehe abdul tertawa .
Ya RSUD Sampang itu memang aneh super ajaib seperti ada magizer yang menyulap rumah sakit menjadi rumah sakit-sakitan, sistem pengelolaannya sudah kena penyakit komplikasi yang susah disembuhkan. Padahal beberapa upaya sudah dilakukan oleh beberapa LSM mulai dari laporan Tipikor ke institusi hukum, melakukan audiensi dengan pihak terkait, ada aksi demonstrasi ke Dinkes dan Bupati. Tapi sial para pencari kebenaran itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
Seolah-olah mereka kebal hukum dan memang mereka ada yang memback up mafia berkelas, entah kelas berapa. Namun ku yakinkan pada kawan-kawan aktivis dalam kumpulan curhatan ini. Soeharto sang presiden otoriter itu jatuh tak berdaya, Fuad amin si Bupati Bangkalan juga hancur merana. Jadi, tetaplah digaris perjuangan, jangan berhenti ditengah jalan. Kalau kita bersatu maka kita bisa meruntuhkan tembok-tembok itu. Bismillah kita pasti bisa.

8 Maret 2016

Rakyat Sehat Negara Kuat

Posting Komentar

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama